A Piece of Memories



Jogja, selalu menjadi tempat yang kurindukan. Terutama jalanannya yang tenang, jajanannya yang enak dan murah, orang-orangnya yang ramah, dan masih banyak lagi kenangan-kenangan yang tersimpan disana, hanya aku dan Jogja yang tahu. 

Sebenernya terakhir kali kesana mungkin aku masih kecil, but I'm not sure (maybe when I was in five?). Itu aku masih kecil banget dan seingetku pergi naik kereta dari stasiun Gambir.

Back to yesteryears, aku kembali lagi ke Jogja untuk sekedar iseng backpacking dengan uang seadanya. Sampai di bandara, aku malah kelaperan. The first food I thought about was gudeg. Makanan yang juga selalu menjadi menu utamaku walaupun aku bukan sedang di Jogja. Tapi momen makan gudeg tidak berhasil kuabadikan disana.

Tempat pertama yang kudatangi setelah makan gudeg adalah Parangtritis. Aku sangat menyukai pantai. Aku suka mendengar debur ombak, melintasi pasir dan meninggalkan jejak. Jauh dari sana, dan sampai sekarang pun, aku masih bisa mendengar suaranya. Masih terdengar jelas di kedua telingaku.

Pantai selalu jadi tempat pelarian.

The Delmans.

Setelah menikmati pantai, destinasi selanjutnya adalah Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Ini pertama kalinya aku kesana karena terakhir kali ke Jogja, malah seringnya ke Magelang.

Di Ratu Boko, pemandangan Jogja bisa terlihat sangat indah dari atas.

The Prambanan.

Keraton Ratu Boko.

A piece of nature.

Definisi bokek tapi seneng.

Memetik kearifan budaya lokal di Keraton Jogja, juga sangat menyenangkan ternyata. Kala itu, aku menyaksikan sendiri disana masih menjalani tradisinya hingga sekarang. Aku, yang saat itu tidak tahu apa-apa soal budaya Jogja, hanya bisa menganggukkan kepala setiap kali si ibu menjelaskan. Si ibu yang kumaksud bukan ibuku, melainkan ibu pemandu wisata keraton.

Beliau lalu mengajak kami menelusuri pelataran keraton. Sewaktu itu, aku ingat jelas hanya ada kami dan beberapa wisatawan asing yang berkunjung disana. Sepi, karena tidak sedang tanggal merah ataupun weekend. Kami semua mendengarkan si ibu menjelaskan dengan teliti sembari menikmati musik gamelan yang dimainkan oleh beberapa orang berpakaian keraton dan blangkonnya yang sangat menarik perhatianku. 

Rumah kesultanan.

Bedug di pelataran keraton.

Benda-benda bersejarah di museum keraton.

Sri Sultan HB, IX di uang sepuluh ribu rupiah (tempo doeloe).


Tulisan tangan Soekarno.

Camera: Canon EOS 1100D (no filter).

Comments

Popular posts from this blog

Short Escape